Ketika Kamu Menyadari Betapa Pentingnya Seseorang Ketika Sudah Tidak Ada
"You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them."
-Desmond Tutu+
Udah lama gak nge-Blog...mungkin hampir 8 tahun lamanya... blog lama ada di http://wiwiceritanih.blogspot.com/
Dan...entah kenapa ingin menulis lagi... jujur saja kalau saya bukanlah orang yang terbuka untuk bercerita dengan orang lain. Tapi dengan menulis, bisa menjadi tempat curcol saya, hahaha... (kalau kecil dulu malah suka menulis curhat di buku diary) yang kalau dibaca kembali beberapa tahun kemudian langsung ketawa sambil mikir " ya ampuunn kok aku nulis kayak beginian" okee..itu intermezzo :D
Ada satu hal yang tiba-tiba bikin saya ingin menuliskan ini...
Beberapa bulan lalu tepatnya tanggal 7 September 2017 lalu saya kehilangan sosok Bapak. Beliau meninggal setelah operasi Otak, ada penggumpalan daran di otak akibat kecelakaan yang dialami almarhum.
Kaget dan sedih tentunya.
Flashback tentang Bapak di mata saya...
Almarhum bapak adalah sosok yang (menurut saya waktu dulu) kaku, tidak banyak omong. Mungkin karena orang Jawa. Duluuuu saya sempat mengeluh kepada Mama, kira-kira begini "kenapa ya ma bapak kok kaku sekali sama anak-anaknya, jarang ngajak ngobrol. Marah-marah mulu kerjanya"
Saya ingat banget, jaman masih sekolah (SD-SMP-SMA) Kalau saya dapat ranking 3 besar, bapak cuma diam saja sehabis terima raport, cuma bilang "nih kamu ranking segini " udah gitu aja.
Tapi kalau saya rankingnya turun, Bapak akan marah dan mengomel. Tiap lihat muka saya, beliau akan langsung merepet soal banyak belajar kurangi nonton tv bla..bla... Ujung-ujungnya saya curhat ke mama.
Ketika masa kuliah pun seperti itu. Saya pikir, yah mungkin sudah sifat beliau seperti itu, jadi saya pun ya cuma bisa membuktikan kalau keputusan untuk kuliah di Jogja itu ada hasilnya. Soal sekolah untuk anak-anaknya Bapak selalu bertanggung jawab penuh, Beliau gak pernah ngomong langsung ke saya, tapi lewat mama lah saya tahu kalau uang untuk hidup sebagai perantauan di Jogja dan segala tetek bengek urusan kuliah dibiayai Bapak. Pesan bapak lewat Mama, Beliau minta saya untuk pilih jurusan Akuntansi daripada Manajemen karena katanya itu lbh besar peluangnya untuk dapat pekerjaan. Dan hal tersebut disampaikan oleh Mama. Selama ini Mama itu semacam perantara antara saya dan Bapak hehehee
Oke, saya pilih Akuntansi dan alhamdulillah bisa lulus cum laude. dapat pekerjaan yang (alhamdulillah lagi) menurut orang (bukan saya) prestisius. Saat lulu pun Bapak gak bilang apa-apa. Tapi saya sudah terbiasa dengan hal itu. Cuma bisa lihat dari ekspresi beliau yang bangga. Dulu, gak dapat omelan aja sudah senang hahaha..
Okay, skip beberapa tahun kemudian...
Selama ini, belasan tahun saya menganggap sosok Mama itu sebagai semacam Angel di keluarga. Yang maju ke medan perang kalau diperlukan (ini ungkapannya lebay). Dari sejak jaman masuk kuliah sampai kerja, saya sudah terbiasa merantau jauh dari rumah masa kecil saya. Jogjakarta dan Jakarta adalah perantauan saya. Mama sosok yang selalu terlihat apabila saya membutuhkan sesuatu. kalau saya sakit atau butuh curhat mama lah tempat itu. Yang setiap minggu selalu menelpon untuk menanyakan kabar anaknya ini yang jarang telpon ke rumah :p saya gak pernah di telpon Bapak. Tapi kalau Mama sedang menelpon pasti ada Bapak disamping mama, dan (lagi) jadi perantara kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan Bapak lewat kepada saya lewat Mama.
Saat ini....
Setelah Bapak tidak ada...
Banyak hal berubah...
Pertama, Mama berubah jadi sosok yang sedikit pemarah (emosinya jadi gampang tersulut), seperti kehilangan fokus sedikit. saya dan keluarga menganggap hal itu terjadi karena selama ini Bapak adalah sosok yang selalu memberikan saran dan masukan buat Mama. Untuk masalah saran dan kritik, Bapak memang jagonya. Beliau terkenal di kalangan keluarga besar sebagai sosok tempat curahan hati yang butuh (gak cuma) pendengar tapi juga bisa memberikan saran. Okay, sampai disini saya merasa ini benar banget. Karena sering lihat sendiri keluarga datang ke rumah ngobrol sama Bapak.
Kedua, untuk hal ini ternyata saya sangat SALAH selama hampir 30 tahun. Sejak mulai dewasa saya selalu mengganggap kalau Mama lah yang menopang biaya rumah tangga lebih besar daripada Bapak.
Ternyata, saya SALAH. Dapat cerita dari adik paling bontot kalau sejak Bapak tidak ada, keuangan mama agak goyah, pusing bayar macam-macam pajak kendaraan, PBB, bayar listrik dan air. Selama ini, Bapak lah yang teratur bayar semua sebelum jatuh tempo. Sekarang semua harus diurus Mama sendiri :(
Bapak sosok yang sederhana. punya baju, sepatu, bahkan dompet ga pernah ganti kecuali sudah rusak. Akhirnya tiap lebaran dulu, saya selalu belikan baju Koko dan Polo shirt buat beliau supaya bisa ganti-ganti. Dan lagi-lagi, kalau sudah dibelikan, Bapak gak pernah komentar apapun. Tapi kalau baju yang dibelikan langsung dipakai pergi ke Masjid atau keluar rumah, itu tandanya Bapak suka. :)
Selama ini keuangan diatur dengan sebaik-baiknya oleh Bapak. makanya, dulu kalau Mama udah shopping belanja baju atau tas, bapak suka ngomel-ngomel. Jadi kalau mama beli tas baru, disimpannya di kamar sebelah supaya gak ketahuan. haha..
Ketiga.....
selama ini saya menganggap kalau sosok Mama yang paling berperan, sebagai sosok yang perhatian kepada anak-anaknya. Hampir setiap minggu telpon. Kalau sedang dalam perjalanan pulang dari Mataram ke Jakarta, Mama selalu telpon sekedar nanya sudah sampai atau belum.
Sekarang, setelah bapak gak ada, Mama jarang telpon, saya yang selalu telpon lebih dulu untuk sekedar tanya kabar karena saya pikir Mama sibuk dengan pekerjaannya. Kemarin setelah beberapa kali pulang ke rumah, Mama sedikit lebih dingin daripada biasanya. Saat balik ke Jakarta pun, Mama sudah gak pernah telpon tanya apakah sudah sampai atau belum di Kost. Bisa dimaklumi karena mama memang orangnya cuek dan pelupa. Akhirnya saya tahu, bahwa sosok Bapak yang selama ini saya anggap cuek bebek, justru adalah orang berjasa dibalik layar keluarga ini. ( saat ngetik ini rasanya mau nangis). yang selalu mengingatkan Mama segala hal, dari mulai keuangan, masalah pekerjaan sampai masalah anak-anaknya.
Bapak lah yang (mungkin) rutin mengingatkan Mama untuk menelpon saya dan adik-adik. (karena kalau Mama telpon, pasti ada Bapak disampingnya). Bapak yang gak pernah telat kirim uang bulanan dan uang kuliah saat masih kuliah di Jogja dulu. Bapak yang gak pernah kasih saran langsung ke saya tapi lewat Mama. Bapak sosok yang sepaham dalam hal berbicara masalah ekonomi dan politik. Sosok yang cerdas ditempa pengalaman hidup. Bapak ini tamatan STM (setara SMA) tapi kalau udah ngobrol masalah apa saja selalu nyambung. Bukti kalau sekolah kehidupan itu lebih penting daripada sekedar titel/gelar.
Bapak ini perantau di mataram, dekat dengan keluarga besar Mama, jadi ketika beliau meninggal dunia, keluarga besar Mama datang memberikan penghormatan terakhir.
Dan... saya baru menyadari ada yang hilang di dalam diri saya. Walau dulu jarang berinteraksi ketika Bapak masih ada, tapi kehilangan Bapak ternyata meninggalkan lubang menganga. Bapak bukan sekedar nama, tapi sosok dibalik layar.
Ya Allah ampunilah dosa saya selama ini karena pernah suudzon menganggap Bapak sosok yang tidak sesuai keinginan saya. Di balik sikapnya justru beliau sosok yang perhatian dengan caranya sendiri. Lebih memilih dibalik layar. tidak menerima pujian.
Dan...sekarang ketika Bapak gak ada, keadaan menjadi berbeda. Nasi sudah menjadi bubur. Allah telah menunjukkan kebenarannya.
yang saya tangisi, ada penyesalan bahwa saya tidak sempat mengajak ngobrol Bapak, sekedar menanyakan kabar. memberikan waktu luang untuk bersama Bapak.
Kamu Menyadari Betapa Pentingnya Seseorang Ketika Sudah Tidak Ada
Maka hanya doa yang bisa saya berikan untuk Bapak. Semoga segala amal ibadah almarhum diterima Allah dan mendapat tempat terbaik di surgaNya.
Buat siapapun yang membaca ini, jika masih ada keluarga dan Orang Tua yang hidup, berikan lah sedikit waktu untuk sekedar berbicara dan membahagiakan mereka. Sebelum terlambat ketika Allah memilih memanggil mereka karena sayang kepada mereka.
Al Fatihah...
Udah lama gak nge-Blog...mungkin hampir 8 tahun lamanya... blog lama ada di http://wiwiceritanih.blogspot.com/
Dan...entah kenapa ingin menulis lagi... jujur saja kalau saya bukanlah orang yang terbuka untuk bercerita dengan orang lain. Tapi dengan menulis, bisa menjadi tempat curcol saya, hahaha... (kalau kecil dulu malah suka menulis curhat di buku diary) yang kalau dibaca kembali beberapa tahun kemudian langsung ketawa sambil mikir " ya ampuunn kok aku nulis kayak beginian" okee..itu intermezzo :D
Ada satu hal yang tiba-tiba bikin saya ingin menuliskan ini...
Beberapa bulan lalu tepatnya tanggal 7 September 2017 lalu saya kehilangan sosok Bapak. Beliau meninggal setelah operasi Otak, ada penggumpalan daran di otak akibat kecelakaan yang dialami almarhum.
Kaget dan sedih tentunya.
Flashback tentang Bapak di mata saya...
Almarhum bapak adalah sosok yang (menurut saya waktu dulu) kaku, tidak banyak omong. Mungkin karena orang Jawa. Duluuuu saya sempat mengeluh kepada Mama, kira-kira begini "kenapa ya ma bapak kok kaku sekali sama anak-anaknya, jarang ngajak ngobrol. Marah-marah mulu kerjanya"
Saya ingat banget, jaman masih sekolah (SD-SMP-SMA) Kalau saya dapat ranking 3 besar, bapak cuma diam saja sehabis terima raport, cuma bilang "nih kamu ranking segini " udah gitu aja.
Tapi kalau saya rankingnya turun, Bapak akan marah dan mengomel. Tiap lihat muka saya, beliau akan langsung merepet soal banyak belajar kurangi nonton tv bla..bla... Ujung-ujungnya saya curhat ke mama.
Ketika masa kuliah pun seperti itu. Saya pikir, yah mungkin sudah sifat beliau seperti itu, jadi saya pun ya cuma bisa membuktikan kalau keputusan untuk kuliah di Jogja itu ada hasilnya. Soal sekolah untuk anak-anaknya Bapak selalu bertanggung jawab penuh, Beliau gak pernah ngomong langsung ke saya, tapi lewat mama lah saya tahu kalau uang untuk hidup sebagai perantauan di Jogja dan segala tetek bengek urusan kuliah dibiayai Bapak. Pesan bapak lewat Mama, Beliau minta saya untuk pilih jurusan Akuntansi daripada Manajemen karena katanya itu lbh besar peluangnya untuk dapat pekerjaan. Dan hal tersebut disampaikan oleh Mama. Selama ini Mama itu semacam perantara antara saya dan Bapak hehehee
Oke, saya pilih Akuntansi dan alhamdulillah bisa lulus cum laude. dapat pekerjaan yang (alhamdulillah lagi) menurut orang (bukan saya) prestisius. Saat lulu pun Bapak gak bilang apa-apa. Tapi saya sudah terbiasa dengan hal itu. Cuma bisa lihat dari ekspresi beliau yang bangga. Dulu, gak dapat omelan aja sudah senang hahaha..
Okay, skip beberapa tahun kemudian...
Selama ini, belasan tahun saya menganggap sosok Mama itu sebagai semacam Angel di keluarga. Yang maju ke medan perang kalau diperlukan (ini ungkapannya lebay). Dari sejak jaman masuk kuliah sampai kerja, saya sudah terbiasa merantau jauh dari rumah masa kecil saya. Jogjakarta dan Jakarta adalah perantauan saya. Mama sosok yang selalu terlihat apabila saya membutuhkan sesuatu. kalau saya sakit atau butuh curhat mama lah tempat itu. Yang setiap minggu selalu menelpon untuk menanyakan kabar anaknya ini yang jarang telpon ke rumah :p saya gak pernah di telpon Bapak. Tapi kalau Mama sedang menelpon pasti ada Bapak disamping mama, dan (lagi) jadi perantara kalau ada sesuatu yang ingin disampaikan Bapak lewat kepada saya lewat Mama.
Saat ini....
Setelah Bapak tidak ada...
Banyak hal berubah...
Pertama, Mama berubah jadi sosok yang sedikit pemarah (emosinya jadi gampang tersulut), seperti kehilangan fokus sedikit. saya dan keluarga menganggap hal itu terjadi karena selama ini Bapak adalah sosok yang selalu memberikan saran dan masukan buat Mama. Untuk masalah saran dan kritik, Bapak memang jagonya. Beliau terkenal di kalangan keluarga besar sebagai sosok tempat curahan hati yang butuh (gak cuma) pendengar tapi juga bisa memberikan saran. Okay, sampai disini saya merasa ini benar banget. Karena sering lihat sendiri keluarga datang ke rumah ngobrol sama Bapak.
Kedua, untuk hal ini ternyata saya sangat SALAH selama hampir 30 tahun. Sejak mulai dewasa saya selalu mengganggap kalau Mama lah yang menopang biaya rumah tangga lebih besar daripada Bapak.
Ternyata, saya SALAH. Dapat cerita dari adik paling bontot kalau sejak Bapak tidak ada, keuangan mama agak goyah, pusing bayar macam-macam pajak kendaraan, PBB, bayar listrik dan air. Selama ini, Bapak lah yang teratur bayar semua sebelum jatuh tempo. Sekarang semua harus diurus Mama sendiri :(
Bapak sosok yang sederhana. punya baju, sepatu, bahkan dompet ga pernah ganti kecuali sudah rusak. Akhirnya tiap lebaran dulu, saya selalu belikan baju Koko dan Polo shirt buat beliau supaya bisa ganti-ganti. Dan lagi-lagi, kalau sudah dibelikan, Bapak gak pernah komentar apapun. Tapi kalau baju yang dibelikan langsung dipakai pergi ke Masjid atau keluar rumah, itu tandanya Bapak suka. :)
Selama ini keuangan diatur dengan sebaik-baiknya oleh Bapak. makanya, dulu kalau Mama udah shopping belanja baju atau tas, bapak suka ngomel-ngomel. Jadi kalau mama beli tas baru, disimpannya di kamar sebelah supaya gak ketahuan. haha..
Ketiga.....
selama ini saya menganggap kalau sosok Mama yang paling berperan, sebagai sosok yang perhatian kepada anak-anaknya. Hampir setiap minggu telpon. Kalau sedang dalam perjalanan pulang dari Mataram ke Jakarta, Mama selalu telpon sekedar nanya sudah sampai atau belum.
Sekarang, setelah bapak gak ada, Mama jarang telpon, saya yang selalu telpon lebih dulu untuk sekedar tanya kabar karena saya pikir Mama sibuk dengan pekerjaannya. Kemarin setelah beberapa kali pulang ke rumah, Mama sedikit lebih dingin daripada biasanya. Saat balik ke Jakarta pun, Mama sudah gak pernah telpon tanya apakah sudah sampai atau belum di Kost. Bisa dimaklumi karena mama memang orangnya cuek dan pelupa. Akhirnya saya tahu, bahwa sosok Bapak yang selama ini saya anggap cuek bebek, justru adalah orang berjasa dibalik layar keluarga ini. ( saat ngetik ini rasanya mau nangis). yang selalu mengingatkan Mama segala hal, dari mulai keuangan, masalah pekerjaan sampai masalah anak-anaknya.
Bapak lah yang (mungkin) rutin mengingatkan Mama untuk menelpon saya dan adik-adik. (karena kalau Mama telpon, pasti ada Bapak disampingnya). Bapak yang gak pernah telat kirim uang bulanan dan uang kuliah saat masih kuliah di Jogja dulu. Bapak yang gak pernah kasih saran langsung ke saya tapi lewat Mama. Bapak sosok yang sepaham dalam hal berbicara masalah ekonomi dan politik. Sosok yang cerdas ditempa pengalaman hidup. Bapak ini tamatan STM (setara SMA) tapi kalau udah ngobrol masalah apa saja selalu nyambung. Bukti kalau sekolah kehidupan itu lebih penting daripada sekedar titel/gelar.
Bapak ini perantau di mataram, dekat dengan keluarga besar Mama, jadi ketika beliau meninggal dunia, keluarga besar Mama datang memberikan penghormatan terakhir.
Dan... saya baru menyadari ada yang hilang di dalam diri saya. Walau dulu jarang berinteraksi ketika Bapak masih ada, tapi kehilangan Bapak ternyata meninggalkan lubang menganga. Bapak bukan sekedar nama, tapi sosok dibalik layar.
Ya Allah ampunilah dosa saya selama ini karena pernah suudzon menganggap Bapak sosok yang tidak sesuai keinginan saya. Di balik sikapnya justru beliau sosok yang perhatian dengan caranya sendiri. Lebih memilih dibalik layar. tidak menerima pujian.
Dan...sekarang ketika Bapak gak ada, keadaan menjadi berbeda. Nasi sudah menjadi bubur. Allah telah menunjukkan kebenarannya.
yang saya tangisi, ada penyesalan bahwa saya tidak sempat mengajak ngobrol Bapak, sekedar menanyakan kabar. memberikan waktu luang untuk bersama Bapak.
Kamu Menyadari Betapa Pentingnya Seseorang Ketika Sudah Tidak Ada
Maka hanya doa yang bisa saya berikan untuk Bapak. Semoga segala amal ibadah almarhum diterima Allah dan mendapat tempat terbaik di surgaNya.
Buat siapapun yang membaca ini, jika masih ada keluarga dan Orang Tua yang hidup, berikan lah sedikit waktu untuk sekedar berbicara dan membahagiakan mereka. Sebelum terlambat ketika Allah memilih memanggil mereka karena sayang kepada mereka.
Al Fatihah...
Comments
Post a Comment